Di Tepi Trotoar

Bayu berlari sekuat tenaga mengejar bus yang perlahan melaju. Uang dikantongnya hanya tersisa 10 ribu rupiah. Hanya cukup untuk 1 kali perjalanan pergi.

Bayu memang all in kali ini.
Dia siap berjuang di kota itu. Kota tujuannya, Samarinda.
Setelah mendapat surat dari pamannya beberapa hari yang lalu, bahwa hari ini di tanggal ini 17 Agustus, ada pekerjaan yang bisa menghasilkan 200ribu dalam satu hari.

Paman tidak menjelaskan apa pun di suratnya. Yang pasti dia menawarkan ini khusus hanya untuk Bayu. Beserta alamat yang harus ia tuju.

Bayu berangkat pagi sekali hari ini.  Biasanya di siang harinya ia membantu tetangganya mengeluarkan Babi dari kandang dan memberi makan. Dia dapat 10.000 rupiah perhari. Namun hari ini tidak. Bayu bangun setelah mendengar kumandang adzan dan suara bebek berkeliaran di pelataran rumah.

10 ribu rupiah cukup untuk hidup satu hari. Namun hari ini, tujuan Bayu berbeda. Pria ini ingin dapat 200 ribu dalam 1 hari. Ini pendapatan terbesar selama hidupnya.

Rencananya uang ini akan dipakai untuk membeli baju baru dan untuk makan selama beberapa minggu ke depan.

Bayu berpakaian serapi yang ia bisa. Celana kain kumal dengan sedikit robek di pantat kirinya dengan padanan baju polo shirt bergambarkan Prabowo Hatta yang ia dapat sewaktu ada tim sukses membagikannya di lapangan.

Dua jam berlalu, bus telah sampai di Samarinda. Bayu yang sedari tadi termenung, akhirnya sadar bahwa ia telah sampai di tujuan.

Bergegas ia mengeluarkan surat yang ada di kantung celananya. Bayu bertanya kepada warga sekitar tentang alamat yang ada di surat itu.

Akhirnya Bayu sampai juga di alamat yang dimaksud. Letaknya tidak jauh dari bus tadi berhenti. Hanya sekitar 3 KiloMeter. Keringat mengucur deras di dahi Bayu.

Rumah megah nan luas berada di depan Bayu. Kali ini rasa takjub tak bisa di lawannya.

‘Luar Biasa besar sekali ini rumah’
Bayu memberanikan diri mengetuk pintu pagar. Tidak ada respon.

“Assalamualaikum” pria ini sedikit berteriak.
Masih hening.
Beberapa menit kemudian, pintu pagar terbuka sedikit. Seorang security memperlihatkan sedikit wajahnya di sela – selanya.

“Cari siapa mas?”ucap bapak itu garang.
“Anu mas, saya disuruh paman saya kesini” bayu menjawab.
“Ohhhhh…. yayaya paham saya. Masuk – masuk” security itu membukakan pintu pagar.

Tampilan rumah ini sudah luar biasa dilihat dari luar. Saat masuk ke dalam. Cuman satu kata yang keluar dari mulut Bayu.
“Astaga!”

“Hari ini kamu bersihkan ruang tengah, dapur dan gudang!. Jam 5 sore  majikan minta semuanya sudah selesai!”.
Bayu mengangguk mendengarkan. Pria ini paham bahwa pekerjaan yang dimaksud pamannya adalah menjadi tukang bersih – bersih di rumah orang Kaya.

Waktu baru pukul 9 pagi. Perlahan – lahan Bayu membersihkan Ruang Tengah. Menyapu semua sudut yang ada. Membersihkan semua debu. Sambil sesekali terus kagum akan bagaimana kayanya sang pemilik rumah ini.

Sudah dua jam berlalu, Bayu hanya berhasil membersihkan sebagian dari ruang tengah. Masih banyak yg harus dikerjakan.
Pria pemalas yang biasanya tidur – tiduran sambil memberi makan babi, hari ini harus terjaga dan terus menerus membersihkan. Ada ketakutan juga di dirinya, kemungkinan besar tidak sempat sama sekali membersihkan dapur dan gudang.

Waktu berlalu cepat, menjelang sore. Bayu sangat lelah. Ia baru menyelesaikan setengah dari pekerjaan yang diberikan kepadanya.

“Majikan datang, hentikan kerjaanmu” ujar security.

Mobil mentereng berwarna Merah berhenti di pelataran.
Dari mobil mewah yang berseri Mazda Rx-8 itu, keluar seorang lelaki besar, berkumis tebal. Persis seperti foto yang terdapat di ruang tengah.

“Ini ya orangnya?” tanya si Bapak kepada security sambil melihat Bayu dengan tajam.
“Iya pak, ini orang yang dikirim buat tanggung jawab” security menjawab sambil menunduk.
“Tanggung jawab. Tanggung jawab apa?” Bayu berbisik sambil menyenggol security.
“Sudah diem” security melotot kepada Bayu.
“Oke, saya masuk ke dalam!” Bapak itu kemudian melangkah masuk ke dalam tanpa sedikitpun menggubris Bayu.

Beberapa menit berlalu.
“Sudah pulang sana kamu! Dasar keluarga gak becus!” Security tiba – tiba berbicara dengan emosi.
“Loh pak, bayaran saya mana?” Bayu kaget dan mulai bingung.
“Bayaran apa?, kamu kerja gak selesai!”
“Loh biar gak selesai, saya kan sudah bekerja. Masa gak dibayar! Kata paman saya, saya kerja disini bakal dapat 200ribu per hari” Bayu bersikeras.
“Hahaha… gila kamu. Hutang paman kamu saja masih 10 Juta sama si Bapak. Paman kamu mecahin TV Samsung 52 inci. Bapak sudah berbaik hati mengikhlaskan dan membiarkan ponakannya membantu membersihkan rumah sebagai bentuk tanggung jawab!  Masih minta bayaran? Keluarga Edan!” Pria itu  membentak.
“Ta .. tapi…” Bayu gagu, namun nyalinya ciut melihat Security itu mengeluarkan tongkat miliknya.
“Sudah, keluar kamu!” ancaman pria besar itu menjadi – jadi.

Dengan terpaksa Bayu melangkah pergi keluar dari rumah besar itu. Berjalan tak tentu arah. Terdengar sayup suara Adzan Magrib.

Bayu tertunduk pilu dan termenung di tepi trotoar, bertanya – tanya kepada diri sendiri.
“Bagaimana pulang? Bagaimana makan? Masihkah aku boleh bekerja memelihara babi kalau aku pulang? Teganya paman menipuku?”

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

END

Advertisements

Be the first to like and comment this post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s