Gengsi? Ntar aja deh !

Beberapa hari yang lalu, saya sedang berkeliling kota sambil sibuk memperhatikan sekeliling.

Mengapa saya memperhatikan sekeliling?

Karena saya mencari pencucian motor.

Sewaktu itu jam sudah menunjukkan pukul 19.00, sedangkan saya baru saja menyelesaikan urusan bisnis. Namun motor penuh dengan lumpur, karena hujan terus mengguyur dan saya beberapa kali kena semprot mobil yang sedang melaju.

Sungguh, saya mendoakan para pengendara itu agar lebih cepat kaya. Biar bisa sewa supir yang rendah hati dan tidak ugal-ugalan.

Hari sudah kering, waktu menunjukkan malam minggu telah tiba. Saya tidak mau keliling kota dengan motor kotor, gengsii dong, ya kan?

Akhirnya saya berhasil menemukan satu pencucian motor yang masih buka dan segera bertanya. “Mas, masih mau ncucikan motor?”

“Iya mas, taroh aja motornya situ” jawab lelaki yang berada di situ. Kemungkinan besar adalah sang pemilik.

Sembari menunggu motor saya yang sedang dicuci. Para pekerja pencucian motor ini sedang dibagi hasil pekerjaannya di hari itu.
Sambil menunggu, saya pun memperhatikan mereka.

setelah mereka menerima hasil kerja mereka. Mereka semua mulai bersiap-siap untuk pulang. Namun, ada 1 yang menarik mata saya. Yaitu jumlah pendapatan mereka dan gadget yang mereka bawa. Bahkan lebih keren dari saya.

Mengetahui bahwa saya memperhatikan mereka, ada satu orang yang mencoba membuka percakapan ke saya.

“Kotor banget itu motor mas, habis darimana?”
“Saya habis kehujanan dari luar kota, banyak kena cipratan dari mobil. Btw, disini buka sampai jam brapa ya?”
“Sampai 19.00 sih mas, mas tadi pengunjung terakhir”
“Ooo, rame juga ya di sini saya lihat”
“Iya mas, hari ini saya cuci 32 motor, jadi dapat sekitar 250.000 hari ini”
“Wow, sebulan 7.500.000 dong mas?”
“Iya mas, enak kerja di sini daripada jadi tukang yang cuman 50.000, badan sakit pula”
“Bener”
“Saya nih rumah jauh mas, tapi saya milih kerja di sini, daripada jadi buruh”
“Ooo, naik apa kesini mas?”
“Tuh motor saya” sambil menunjuk Honda Grand warna. Orange.
“Wah orange” kata saya.
“Iya mas, orange… Persisam maksudnya Itu”
“Hahaha, keren-keren keren”
“Tapi yaitu mas, butut-butut gitu, nemani saya tiap hari mas, cari uang, beli blackberry dan lain-lain. Walaupun. Terus diolok”
“Diolok apa mas?” Saya penasaran.
“Sama teman-teman saya, motor saya diolok motor kantor pos. Dan setiap hari saya dihina akan hal itu, tapi saya gak perduli mas. Gengsi? Entar aja deh!”
“Wah kok gitu ya, btw kok gak peduli diolok?”
“Iya mas, kan yang lain uang harian gini dipake buat foya2, dugem, beli gadget atau modif motor mas. Kalo saya, saya simpen.”
“Ditabung gitu?”
“Iya, saya tabung trus belikan tanah. Entar tanahnya bisa dibangunin rumah buat Ibu saya”
“Ooooo” saya.terdiam dan terhenyak. Betapa mulianya seorang tukang cuci motor ini, bahkan penghasilannya melebihi para PNS dan karyawan di sini.

Kesimpulan cerita ini, simpulkanlah saja sendiri. Saya kurang ahli dalam menyimpul.
Salam hidup berkelimpahan.

Rizky Yudhis~

Advertisements

4 thoughts on “Gengsi? Ntar aja deh !

Be the first to like and comment this post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s