Gue Dani, pria mapan yang bekerja di sebuah bank swasta. Bekerja sebagai staff bagian perkreditan dan mempunyai penghasilan yang diatas rata – rata dikarenakan ketekunan gue dalam bekerja.

Hari – hari gue dipenuhi dengan kesibukan, kesibukan dan kesibukan. Mempelajari permohonan KPR para pegawai negeri ataupun mempelajari peminjaman dana yang ingin dilakukan oleh para nasabah di Bank tempat gue bekerja.

Sampai pada sebuah weekend dimana gue pengen banget melepaskan kepenatan gue di Kantor. Dari pagi gue udah bersantai di apartemen gue yang gue beli dengan hasil jerih payah gue sendiri. Ya, gue hidup sendiri. Gue belum punya pacar dan masih jomblo.

Gue gak punya waktu untuk memikirkan yang namanya pacaran, walaupun umur gue sudah 26 tahun, namun menurut gue, hal-hal seperti pacaran itu bukan sebuah Prioritas. Prioritas gue adalah hidup gue dan para nasabah. That’s are my career and my life.

Handphone gue berdering, “fuck, si Sandy nelpon… mau apa lagi ini anak?”

Sekedar penjelasan, Sandy adalah anak seorang juragan fashion di bilangan simpangan tempat gue tinggal. Dia teman gue sejak gue kerja di bank ini, namun namanya juga Sandy, dan bosnya orang fashion. Jadinya Sandy itu semacam alay yang hidup dan beredar di kota-kota besar.

‘halo, kenapa San?’

‘3Lu dMaN4 & ??’

‘gue diapartemen gue nih… ada apa? lo ganggu pagi gue yang indah tau gak?’

‘b4h dik4u iN1 , 9uw3h @d3pAn PiNTu L0’

‘sebentar San, lu diam disitu, gue mau ngomong sama yang bikin cerita ini bentar !’

Dani : “om Rizky, si Sandy memang alay, tapi tulisan dan kata2nya kalo lagi ngobrol gak digitukan juga kale !”

Rizky Yudhis : “oh iya sorry, kebiasaan ^^V”

Dan gue pun berjalan menuju pintu dan membukakan Sandy pintu. Omegosh, si Sandy berdiri di depan pintu dengan celana merah putih garis2 vertikal, kacamata dengan bingkai hijau, baju berwarna kuning keemasan.

‘elu bener2 dah kayak cat permen lolipop’ gue berkata sambil beranjak menuju depan TV.

‘gaul ini men’ si Sandy menangkis ejekan gue sambil masuk ke apartemen gue sembari bergoyang mendengarkan musik SNSD yang bergaung di earphonenya.

‘ngapain lu kesini pagi2?’

‘gini men, ntar malam ada acara kumpul bareng para event organizer dan para SPGnya di cafe, lu ikutan gih… mumpung lagi weekend, daripada elu dirumah kayak orang bego. Betah amat sih dicap kelainan’

‘what !!?’ gue beranjak dari sofa gue.

‘ya ampun, elo itu digosipin kali sama cewek2 di kantor kalo lu itu kelainan, sukanya sama cowok, makanya belum ada pacar sampe sekarang.’

‘AYO KITA BERANGKAT NTAR MALAM !!’

Sialan, kata hati gue. Mentang2 gue terlalu nyaman dalam kesendirian gue, gue disangka kelainan. Malam ini gue harus dapat pacar, siapa sih yang gak mau sama gue, cowok mapan dan keren begini.

Hari sudah menjelang malam, gue dan Sandy sudah berpakaian lengkap dan tampil sekeren mungkin dengan barang2 terupdate dari Toko Babenya si Sandy “GANTENG JAYA FASHION”.

Awalnya acara cuma berjalan biasa-biasa aja, wanita wanita yang saya temukan hanya SPG – SPG yang mempunyai body yang bohay dan Make Up yang tebal yang sama sekali tidak menarik perhatian saya. Sampai akhirnya saya melihat seorang wanita ditengah-tengah keramaian, sibuk dengan kamera Nikon D40 nya dan dengan ramah menyapa para tamu untuk berpose dan tersenyum kearahnya untuk difoto olehnya.

Senyumnya mengalahkan semua pesona SPG yang ada disini, dia seperti dewi diantara semua Wanita yang sedang berada disini. Dewi yang hanya menggunakan baju kaos, celana levis belel, sepatu sneaker buluknya. Dia Fotografer untuk dokumentasi acara ini.

Gue melangkah mendekatinya.

‘mba, fotoin gue dong’

‘sebentar ya mas’ sambil masih menjepret tamu yang berdatangan.

‘loh kok gitu sih? kan gue pengen difoto !’ nada gue agak meninggi melihat tingkah lakunya yang sok sibuk.

‘sebentar ya mas, saya ini foto buat dokumentasi acara, begitu perintahnya… mohon pengertiannya’

‘ah sombong amat sih mba, berapa sih sekali jepret?’

‘wah mas ini sepertinya melecehkan saya ya’ sambil memberikan kameranya ke temannya.

‘eits, sabar mba jangan emosi dulu… tuh kan kameranya udah dipegang temannya… jadi gak sibuk lagi kan… maaf mbak saya sengaja bikin mba emosi, soalnya kalo emosi lebih cantik’

‘hedeeehhhh… gombal’ sambil memalingkan muka.

‘mba, please ntar aja lagi Fotonya, sebentar aja ngobrol sama saya ..’ sambil membuat wajah semanis mungkin.

‘ayo deh’ setelah beberapa detik menatap gue dan wajah gue yang imut, sambil senyum kecil.

‘yes, strategi jadi cowok ngeselin berhasil’ ucap hati gue.

‘gue Dani’ sambil menyodorkan tangan.

‘gue Leyta’ menjabat tangan gue.

‘elu tau gak, elu itu gadis tercantik yang ada disini dibandingin para SPG disini’

‘hahahaha… dasar playboy, gombalannya kencang’ kata Leyta.

‘bentar2’  Leyta mengangkat handphonenya dan beranjak dari tempat kami ngobrol.

Gue hanya bisa diam memperhatikan Leyta berbicara dengan seseorang di handphonenya selama beberapa menit. Gue melihat Leyta seperti sedang berbicara serius dengan orang di telpon itu. Kemudian Leyta menutup telpon itu dan beranjak pergi keluar gedung. Gue pun berinisiatif mengejar.

‘oi Leyta, seendaknya bagi nomor hanphone dong sebelum elu pergi !’

Leyta berbalik dan tersenyum kecil ‘oh iya sorry, nih nomor gue’

dia memberikan nomor HPnya yang tertulis di sebuah kartu nama. Leyta Leidz, Fotografer.

Kemudian dia beranjak pergi dan menaiki motor maticnya.

‘Selamat Tinggal Leyta !’ aku berucap kecil sambil kembali ke dalam tempat acara.

(bersambung)

Advertisements

Be the first to like and comment this post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s